Rabu, 11 Juni 2025

Jika Saya Seorang Belanda (1913)

Kamis, 22 Mei 2025

Senandung Luka di Beranda Senja


Rembulan, serupa keping perak yang digores duka, menggantung sayu di langit kota yang baru saja melepaskan senja. Angin malam, serupa bisikan arwah para pahlawan tanpa nama yang meratap sia-sia, menyusup perlahan melalui celah-celah dinding gedek kamar Suryo, membawa serta dingin yang tak hanya menusuk hingga ke sumsum tulang—sumsum yang kini sering ngilu oleh sisa serpihan peluru yang bersarang di dekatnya—tetapi juga merambati relung-relung jiwa yang kian lama kian lapuk dimakan waktu dan kekecewaan yang membatu. Suryo, lelaki yang usianya baru merangkak kepala empat namun gurat wajahnya telah memeta perjalanan abad-abad penuh kepiluan, dan tubuhnya yang kini tak lagi utuh menanggung bekas luka perang permanen, termangu di bibir dipan bambunya yang berderit setiap kali ia menarik napas panjang, seolah ikut merasakan sesak yang menghimpit dadanya yang sebelah kini terasa lebih berat.

Pelita kecil di sudut ruangan berkelip-kelip, cahayanya yang redup menari-nari di dinding, menciptakan bayang-bayang yang memanjang dan mengerut, serupa hantu-hantu kenangan yang enggan beranjak dari benaknya. Ah, kenangan! Ia, yang dulu dadanya membara oleh pekik ‘Merdeka atau Mati!’, yang penanya tak pernah kering menorehkan gugatan dan harapan bagi Ibu Pertiwi yang terluka, kini hanya mampu memandang nanar pada kegelapan yang meruap dari setiap sudut kamarnya. Kegelapan yang seolah mencerminkan gulita yang bersemayam dalam hatinya melihat negerinya kini, yang ia pertaruhkan separuh raga dan seluruh jiwa untuknya, justru dikangkangi oleh para cecunguk bajingan berdasi, para penjilat yang dulu bersembunyi di ketiak penjajah atau sekadar mengekor di belakang barisan. Kemerdekaan telah diraih, pekik kemenangan telah bergema, namun bagi Suryo, fajar itu terasa begitu semu, matahari seolah enggan menyinarkan kehangatannya pada jiwa-jiwa yang masih berkalang tanah dan debu perjuangan, sementara para bedebah berpesta pora di atas penderitaan rakyat.

Di luar sana, deru mesin-mesin mobil para pembesar kota, yang kini diisi oleh wajah-wajah licin dan perut-perut buncit yang tak pernah mengenal lapar di medan juang, diselingi gelak tawa riang dari warung kopi di ujung gang. Suara-suara itu, bagai belati yang menghunjam tepat di ulu hatinya. Mereka, yang dulu bersamanya meringkuk di parit-parit pertahanan, berbagi sekerat singkong di bawah desingan peluru, kini telah duduk di kursi-kursi empuk, perut mereka membuncit bukan karena kenyang cita-cita, melainkan oleh rampasan hak rakyat jelata. Suryo tersenyum getir. Senyum yang lebih mirip ringisan menahan perih, perih yang menjalar dari kakinya yang pincang hingga ke hatinya yang remuk. "Untuk inikah aku kehilangan separuh kakiku?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Ia meraih secarik kertas kumal dari bawah bantalnya, kertas yang telah menguning dan rapuh di tepinya. Itu adalah salinan risalah yang pernah ia tulis dengan darah dan air mata, dengan semangat yang berkobar-kobar, tentang sebuah negeri yang adil dan makmur, tentang martabat manusia yang tak boleh terinjak. Kata-kata itu, yang dulu mampu menggetarkan jiwa ribuan pemuda, kini terasa hampa, kosong tak bermakna di hadapan kenyataan yang ia saksikan. Kata-kata itu kini hanya jadi bahan tertawaan nasib. Kertas itu diremasnya pelan, namun tak sampai hati ia merobeknya. Itu adalah sisa-sisa dirinya yang masih ia genggam, betapapun rapuhnya, betapapun sia-sianya.

Malam kian merangkak larut. Suara jangkrik di pekarangan belakang terdengar bersahutan, menyanyikan kidung nestapa yang seolah mengerti akan gejolak batin Suryo. Ia bangkit, langkahnya yang sedikit terseok—kenang-kenangan dari pertempuran di Ambarawa—membawanya menuju jendela kecil yang menghadap ke halaman. Di sana, pohon sawo tua yang rindang berdiri tegak, saksi bisu perjalanan hidupnya, dari masa kanak-kanak yang riang, masa remaja yang berapi-api, hingga kini, masa ketika ia merasa terlempar ke tepian, terasing dari gegap-gempita perayaan kemerdekaan yang ia turut perjuangkan dengan harga mahal.

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di bawah pohon sawo. Sesosok bayangan anak kecil, mungkin Parmi, anak tetangga sebelah, sedang termangu menatap rembulan. Bocah itu tampak begitu polos, begitu murni, belum terjamah oleh pahit getirnya kehidupan. Sebuah pertanyaan menyusup dalam benak Suryo, pertanyaan yang begitu menyakitkan: Untuk siapa sebenarnya ia berjuang? Untuk generasi seperti Parmi-kah? Namun, warisan apa yang bisa ia berikan selain cerita-cerita usang tentang heroisme yang kini mulai dilupakan, tentang cita-cita yang dikhianati, dan tubuh yang tak lagi sempurna? Apakah agar anak ini kelak juga ditipu oleh janji-janji manis para durjana berjubah pahlawan?

Suryo menghela napas panjang, asap rokok kretek terakhirnya mengepul tipis, lalu hilang ditelan udara malam. Ia teringat akan Ratmi, kekasihnya yang dulu berjanji menunggu. Ratmi, yang wajahnya kini hanya samar-samar dalam ingatan, terhapus oleh bayangan suaminya, seorang saudagar kaya yang dulu justru dekat dengan lingkaran Belanda, yang ia nikahi selagi Suryo masih bersembunyi di hutan, bertaruh nyawa. Kabar pernikahannya sampai ke telinganya seperti desingan peluru terakhir yang menembus sisa harapannya, merobek kepingan hatinya yang belum hancur oleh serpihan granat. Ratmi, yang selalu percaya pada setiap kata yang ia tulis, pada setiap janji tentang masa depan yang lebih baik. Ah, Ratmi pun tak sabar menanti. Apa guna kesetiaan pada janji, jika perut lebih mendesak dan keamanan lebih menggiurkan daripada cinta seorang pejuang kere?

Semua itu kini terasa begitu jauh, bagai bintang gemintang yang berkelip indah namun tak terjangkau, mengejeknya dari ketinggian. Suryo kembali ke dipannya, merebahkan tubuhnya yang letih dan sakit-sakitan. Matanya menatap langit-langit kamar yang mulai lapuk. Sayup-sayup terdengar dari kejauhan alunan gamelan yang mendayu, seolah mengiringi senandung luka perjuangan yang sia-sia dalam jiwanya. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia akan mencoba memejamkan mata, berharap esok pagi tak pernah datang, sebab setiap fajar hanya membawa pengulangan kekecewaan. Harapannya kian menipis, serupa pelita yang kehabisan minyak, dan ia tahu, perjuangan batinnya akan terus menghantuinya hingga ajal menjemput, memeluk idealismenya yang renta dan cacat di tengah dunia yang terus berputar, melindas tanpa ampun segala yang dianggapnya suci. Sia-sia, segalanya terasa sia-sia.

Sabtu, 10 Juni 2017

Teknik Mengingat Loci atau Mind Palace

Teknik Loci


Teknik loci atau Mind Palace adalah salah satu teknik mengingat yang paling tua dan paling populer di dunia.Teknik loci atau mind palace adalah teknik mengingat yang lebih mengandalkan kepada posisi (lokus,berarti lokasi dalam bahasa yunani).Teknik ini menganalogikan setiap data,fakta dan berbagai informasi penting lainnya terhadap benda atau apapun disekitar kita (benda-benda/suatu keadaan/suasana yang kita kenal dengan baik). Teknik ini pertama  kali tertulis diketahui saat zaman yunani kuno.Dikisahkan,telah terjadi peristiwa saat sebuah ruang perjamuan yang dipenuhi banyak tamu runtuh dan menyebabkan banyak yang meninggal dunia. Lalu,Simonides dari Ceos berhasil mengidentifikasi siapa saja yang meninggal dengan cara mengingat tempat duduk semua orang sebelum ruangan tersebut runtuh.

Bagi yang pernah membaca kisah Sherlock Holmes pun tak asing dengan metode yang dia sebut mind palace.Holmes berkali-kali menggunakan metodenya tersebut untuk memecahkan banyak kasus yang membutuhkan ingatan yang kuat,seperti kasus "The Hound of baskerville".

Banyak juara dunia mengaku menggunakan teknik ini untuk mengingat segala macam informasi.Pada dasarnya metode ini merupakan peningkatan memori yang menggunakan visualisasi untuk mengatur dan mengingat informasi.

Contoh dasarnya adalah ketika kita melewati suatu jalan,lalu kita meninggalkan jejak di jalan itu maka suatu hari saat kita melewati jalan itu lagi kita akan ingat kalau kita pernah melewatinya suatu waktu. Hal ini sama dengan caramu mengingat jalan dari rumah ke sekolah,ke ke kantor atau mengingat daerah sekitar rumah sendiri.

Sementara itu,menurut Patrick Jane,dalam serial The Mentalist,menerangkan bahwa mind palace sebagai berikut,"Untuk membangun satu istana pikiran-yang berisi sekumpulan besar informasi yang sewaktu-waktu bisa diingat kembali-kamu membutuhkan satu lokasi besar di dunia nyata yang benar-benar kamu kenal dengan baik.Kemudian lokasi-lokasi tersebut kamu pecah menjadi bagian-bagian kecil.Setelahnya,kamu harus menghubungkan setiap bagian dengan paket informasi yang ingin kamu simpan.Ketika kamu ingin mengingat informasi yang telah kamu simpan,kamu hanya perlu menutup mata dan di dalam pikiranmu bayangkan kalau kamu sedang berjalan menuju ke 'mind palace' tempat kamu menyimpan informasi yang kamu butuhkan.

Cara kerja metode mind palace sepintas mirip dengan mind map,yaitu sama-sama memetakan ingatan dalam bentuk visual atau menganalogikan ingatan dengan sesuatu yang dekat dengan kita.Bedanya,mind palace langsung divisualisasikan di dalam otak,sedangkan mind map harus terlebih dahulu digambarkan di kertas atau media lainnya.Lalu setelah pemaparan di atas,apa gunanya saya belajar teknik mind palace ?

Sherlock Holmes pernah berkata :

"Otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh akan mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit ditengah-tengah dan tercampur dengan hal-hal lain..



Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkannya ke dalam loteng otaknya. Ia tidak akan memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak. 



Semuanya itu diatur rapi dalam loteng otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau kau pikir loteng otak kita memiliki dinding dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. 



Oleh karena itu, penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna.."

- A Study In Scarlet

Kapasitas otak manusia memanglah tak terbatas,namun kemampuan manusia dalam mengingat ternyata memiliki batas tertentu.Saat ini,mungkin kita bisa mengingat daftar belanja tadi sore,atau apa yang telah kita makan tadi pagi dan lain sebagainya.Sebulan lagi,masihkah kita sanggup mengingat semua itu ? Bagaimana kalau setahun lagi ?

Dengan kata lain,kamu butuh bantuan agar kamu bisa mengingat banyak hal dalam waktu yang lama.Cara yang tersedia adalah membuat catatan dalam bentuk mind map seperti diatas atau membangun mind palace mu sendiri seperti yang dilakukan Sherlock Holmes.Pertanyaannya,bagaimana cara membangun mind palace sendiri ?

Bangun Istana Pikiran Anda Sendiri



Istana merupakan tempat yang sangat besar dan luas, lalu bagaimana kita membangun istana kita sendiri?, pada dasarnya kita manusia mengapal tempat tempat yang sering kita kunjungi dan rute-rute yang sering kita lewati. Jadi untuk membangun sebuah memory palace atau sebuah istana pikiran anda harus membayangkan tempat yang anda hapal secara rinci , seperti rumah, sekolah, tempat kerja, mall, dll. Jadi syarat pertama adalah anda harus memilih Istana Pikiran anda sendiri. Pilih salah satu dan kemudian petakan setiap detailnya dalam pikiran anda. Visualisasikan dengan sangat jelas, kelilingi tempat tersebut dipikiran anda. Selamat!, anda berhasil membangun sebuah Istana Pikiran anda sendiri.

Mulailah Mengelilingi Rute Istana Pikiran

Setiap tempat pasti memiliki ruangan ruangan dan rute-rutenya sendiri, pastikan anda telah hapal secara detil letak-letak rutenya. Oke, contoh istana pikiran yang anda pilih adalah sekolah, pada saat pertama kali kita melihat sekolah adalah gerbang sekolah lalu masuk kedalam ada pekarangan bunga, halaman yang luas, macam-macam ruangan dan sebagainya. Dalam ruangan tersebut terdapat macam-macam benda, seperti meja kursi papan tulis dll. Setiap benda yang anda tahu atau anda perhatikan bisa menjadi tempat sebagai memori peg, atau penanda halaman. Contohnya adalah pekarangan bunga yang telah anda lihat tadi, maka disitulah anda meletakan sebuah informasi. Untuk langkah awal dan sebagai sarana latihan, cobalah menempatkan sebuah informasi pada satu objek. Jika sudah terbiasa nanti, anda bisa menempatkan beberapa informasi sekaligus pada satu objek.

Menggunakan Peg Memori atau Penanda Anda

Pada tahap ini Anda sudah bisa untuk menempatkan informasi pada sebuah penanda atau objek, diatas kita sudah menyinggung pekarangn bunga dan kursi. Lalu bagaimana cara menempatkan informasinya...??
Minggu depan anda disuruh belanja, dan anda diberikan catatan untuk belanja tersebut, terdapat 5 item dalam catatan belanja yang harus dibeli. Maka anda harus memiliki 5 objek yang nantinya akan kita tempatkan informasi ini. Dan ingat dalam menggabungkan dua objek ( Peg dan Informasi) tersebut, anda harus membuatnya seaneh mungkin dan bergerak. Mari kita terapkan dua hal saja sebagai contoh.
Contoh barang yang akan anda beli adalah roti dan susu.Bayangkan anda masuk ke lingkungan sekolah dan Anda akan melihat pekarangan bunga yang sedang disiram dengan susu putih. Kemudian anda masuk ke kelas, dan anda merasa nyaman duduk dikursi tersebut, karena kursi tersebut sangat empuk dan terbuat dari roti. Dan seterusnya....Ingat hal yang seaneh mungkin dan harus bergerak dalam bayangan kita. Dan tanamkan dalam pikran anda animasi tadi yang sudah anda perankan. Tentu saja anda dapat menyesuaikan diri dengan Istana Pikiran anda sendiri.
Hari belanja sudah tiba, bagaimana anda mengingat belanjaan anda? Anda tidak usah khawatir ketika anda sudah berada di depan toko, karena daftar belanja anda sudah tertanam di Istana Pikiran Anda. aAnda hanya harus mengulangi perjalanan mental anda. Dan rasakan betapa mudahnya mengingat beberapa hal tanpa Anda bersusah payah untuk mengingatnya.
Ini hanya tingkat dasarnya saja. Anda dapat mengembangakan sendiri Istana Pikiran Anda, ada berbagai teknik pula dalam mengembangkannya, tergantung bagaimana anda mampu mengelola Istana Anda.


 Prinsip Sukses Menciptakan Istana Pikiran


  • Buat prosesnya semenyenangkan mungkin.
  • Hindari menghafal !
  • Lakukan saja perjalanan mental
  • Bayangkan perjalanan tersebut dalam pikiranmu.
  • Aktifkan setiap indra agar ikut merasakan perjalanan mental tersebut.
  • Gunakan adegan aneh,lucu,unik dan sekreatif mungkin agar otak mudah menyimpan informasi tersebut.
  • Lakukan latihan berulang-ulang hingga kamu mahir,kalau perlu praktikan setiap hari.Semakin sering mempraktikannya,kamu akan semakin terbiasa.Ingat,Practice makes perfect !





Jumat, 11 Maret 2016

Ciri Orang Dengan IQ Diatas Rata - Rata


Kamu pasti pernah ikut tes IQ di sekolah. Namun hasil tes IQ atau Intelligence Quotient itu tidak mutlak dan bersifat kondisional. Untuk mengetahui IQ seseorang, maka bisa dilihat dari ciri-cirinya. Berita dari berbagai sumber, berikut adalah ciri-ciri orang ber-IQ tinggi yang dirangkum dari berbagai sumber

1. Selalu tersenyum



Senyum (Jomblogger)
Senyum (Jomblogger)
Orang ber-IQ tinggi selalu tersenyum karena otaknya terus-menerus memikirkan ide-ide cemerlang sehingga memacu perasaan untuk terus tersenyum. Namun hati-hati, jangan berlebihan, bisa-bisa malah jadi terlihat bukan seperti orang jenius.

2. Cepat bosan



Bosan (spinedu)
Bosan (spinedu)
Ternyata orang ber-IQ tinggi cepat bosan. Tentu saja karena mereka cerdas dan cepat mengerti sesuatu, cepat belajar, cepat berpikir, dan akhirnya cepat bosan. Mereka perlu hal-hal baru.

3. Tidak populer



Tidak populer (Bramardianto)
Tidak populer (Bramardianto)
Pikiran orang ber-IQ tinggi lebih dewasa dibanding umurnya, karena itu mereka bisa dibilang tidak nyambung dan tidak populer saat berbicara dengan teman seumurannya. Malah mereka lebih senang bergaul dengan orang yang juga dewasa pikirannya,karena mereka memiliki pemikiran yang lebih matang dan berpikir jauh kedepan.

4. Tidur larut malam



Sulit tidur (Cronosal)
Sulit tidur (Cronosal)
Otak orang-orang ber-IQ tinggi ini sangat aktif, bahkan karena kerja otak yang seolah tak berhenti ini membuat mereka sulit untuk “mematikan” otak mereka untuk sementara. Akibatnya mereka kesulitan untuk tidur dan pasti bangunnya siang.Namun untuk beberapa orang jenius,mereka lebih memilih tidur lebih awal.Albert Einstein diketahui begitu menghargai waktu tidurnya.

5. Orang aneh



Orang aneh (Muudu)
Orang aneh (Muudu)
Faktanya dengan memiliki IQ tinggi, seseorang akan memiliki daya kreatifitas yang tinggi dan memikirkan yang tidak orang lain pikirkan.Hal-hal yang dilakukan orang ber-IQ tinggi cenderung anti mainstream dan aneh. Dengan demikian, wajar jika banyak orang menjuluki orang ber-IQ tinggi dengan sebutan orang aneh.

6. Terlalu percaya diri



Percaya diri (Tribunnews)
Percaya diri (Tribunnews)
Terlalu percaya diri di sini meliputi terlalu rasional, terlampau berpikir logis, berkepribadian kolerik (choleric) murni, tipe pemimpin alami (natural leader), motivator, perangkap tugas (muti-tasker), ofensif atau bersifat menyerang, konfrontatif, serta cenderung menguasai, mengendalikan, dan menjajah.

7. Merasa lebih tahu



Merasa tahu (Liputan6)
Merasa tahu (Liputan6)
Orang ber-IQ tinggi cenderung untuk memotong pembicaraan orang lain karena merasa sudah mengerti, sudah lebih tahu walaupun belum selesai dijelaskan.Jadi kadang orang-orang ber-IQ tinggi seringkali dicap sebagai orang sotoy (sok tahu)

8. Kemauan keras



Kemauan keras (Pustaherykurnia)
Kemauan keras (Pustaherykurnia)
Percaya diri adalah awal dari kemauan keras. Tidak mudah dipengaruhi, bersifat konsisten, tapi bisa mempengaruhi orang lain. Kamu seperti itu? Bisa jadi kamu orang jenius.

9. Bicara sendiri



Bicara sendiri (Beritaprima)
Bicara sendiri (Beritaprima)
Ciri ini bisa merupakan poin plus dan minus. Plusnya, mereka adalah orang jenius. Minusnya, karena merasa bosan tentu mereka butuh hiburan, namun karena tidak populer akhirnya tak punya banyak teman dan sering bicara sendiri.Orang ber-IQ tinggi cenderung berbicara sendiri karena merasa nyaman dengan siapa dirinya,dan tak terpengaruh pemikiran dari luar.Itu juga yang menyebabkan mereka agak keras kepala.

10. Menggunakan bahasa baku



Ngobrol (Vemale)
Ngobrol (Vemale)
Mungkin karena kemampuan intelektual yang tinggi mereka lebih sering menggunakan bahasa tersebut karena lebih mudah dipahami.Perbendaharaan kata yang dimiliki orang ber-IQ tinggi sangatlah luas,hal ini disebabkan kanrena mereka sering membaca,dan menyerap makna dari kata demi kata di setiap bacaan mereka.



12.Pecinta seni

Seni disini tidak hanya diartikan sebagai musik,namun bisa puisi,lukisan,patung,dan lain sebagainya.Sudah menjadi rahasia umum bahwa para jenius sungguh mengapresiasi seni.Albert Einstein yang seorang fisikawan pun pernah berujar bahwa ia akan menjadi seorang musisi bilamana ia tak menjadi seorang fisikawan.

13.Kutu buku

orang ber-IQ tinggi sudah dapat dipastikan adalah mereka yang gemar membaca.Mereka bisa membaca apa saja dan dimana saja ! apa yang mereka baca pun beragam misalnya komposisi sampo,indeks buku,alamat perusahaan tertentu,iklan kematian di koran atau apapun itu.

Tapi perlu diingatkan ulang bahwa tidak perlu semua yang ada diatas untuk menyimpulkan kecerdasan seseorang.tidak semua orang cerdas bisa disamakan.Karena pada dasarnya setiap individu itu unik.Di satu sisi kamu punya kelebihan dan di sisi lain kamu punya kekurangan.Jadi jangan menyerah terhadap kekuranganmu dan kembangkanlah kelebihanmu.

IQ selama ini dianggap penting bagi masyarakat.Orang tua akan senang bila anaknya mendapat skor tinggi dalam test IQ.Sudah menjadi stereotip dalam masyarakat bahwa IQ tinggi menjadi faktor Utama dalam meraih kesuksesan.Sebenarnya tidak hanya IQ yang diperhitungkan, masih ada EQ dan SQ. Apa perannya masing-masing?
Jika diibaratkan sebagai sebuah mobil, maka IQ, EQ, dan SQ adalah:


So kalau begitu semuanya punya fungsi yang penting agar mobil bisa berjalan. Jika hanya mengandalkan IQ saja, mobil tidak akan bisa jalan karena diperlukan EQ sebagai roda. IQ dan EQ bisa berjalan namun tak tentu arah. Maka itu diperlukan SQ agar mobil bisa berjalan dengan sesuai.

So, faktanya hasil test IQ tidak selalu benar. Mungkin saja sewaktu ditest orang tersebut menyontek, tidak konsentrasi, kurang sehat, dan sebagainya.Dari pada itu,kita mesti mengembangkan ketiga jenis quotient tersebut agar seimbang.Sekian dan terima kasih