Jumat, 20 Maret 2026

Sebuah Refleksi dari Selemah-lemahnya Iman

Sebagai seseorang yang sehari-hari bekerja di dalam sistem birokrasi pemerintahan, saya sering mengamati sebuah fenomena yang secara laten meluas: bagaimana suatu kesalahan bisa berubah menjadi fenomena yang termaklumi hanya karena dilakukan secara kolektif dan terus-menerus. Filsuf Hannah Arendt mendefinisikan fenomena semacam ini sebagai Banality of Evil atau banalitas kejahatan. Sesuatu yang ia rumuskan setelah menyusun laporan sistematis tentang Adolf Eichmann.

Sebuah penyimpangan menjadi sesuatu yang banal atau biasa saja bukan karena pelakunya terlahir sebagai sosiopat, melainkan karena sistem menormalisasinya sedemikian rupa hingga kepekaan moral orang-orang di dalamnya menjadi tumpul.

Jauh sebelum Arendt merumuskan konsep tersebut, Hadits Arbain ke-34 sebenarnya telah memetakan sistem pertahanan moral manusia terhadap kemungkaran.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) Sumber

Kita diperintahkan untuk mengubah kesalahan dengan tangan (kekuasaan), lisan (suara/teguran), atau setidaknya mengingkari hal tersebut di dalam hati sebagai wujud selemah-lemahnya iman. Sayangnya, dalam realitas birokrasi tempat saya bernaung sehari-hari, saya sadar betul ada banyak hal yang berada di luar kendali saya. Saya tidak selalu memegang "tangan" untuk merombak sistem dari atas, dan penggunaan "lisan" yang kadang terbentur oleh hierarki.

Sebagai disclaimer, saya sama sekali tidak mengklaim diri sebagai makhluk suci tanpa cela. Dalam hal-hal kecil, saya pasti pernah berbuat salah atau cacat (terlepas dari sengaja atau tidaknya).

Even devils have restrictions and rules, we choose our sins!

Kita memilih di pertempuran mana kita bersedia berdarah, dan di dosa mana kita terpaksa menoleransi kelemahan diri sendiri. Namun, bahkan iblis sekalipun memiliki batasan dan aturan mainnya sendiri (even devils have restrictions and rules). Bagi saya, harus ada garis tegas yang tidak boleh kita lewati. Harus tetap ada nilai yang harus dipegang.

Ada perbedaan mendasar antara berbuat salah secara sadar dengan pemakluman kolektif yang menghapus definisi "salah". Tulisan ini saya buat tidak untuk menentukan mana yang lebih buruk antara berbuat salah secara sadar atau membiarkan pemakluman kolektif. Dalam tulisan ini, saya menolak gagasan bahwa hanya karena suatu kesalahan dimaklumi oleh banyak orang, lantas kita boleh lupa bahwa hal itu adalah sebuah pelanggaran.

Penting untuk disadari bahwa mengingkari dalam hati adalah langkah darurat (emergency measure), bukan sebuah tujuan akhir. Menjaga pikiran tetap berontak adalah cara kita memastikan bahwa saat ruang untuk menggunakan tangan atau lisan akhirnya terbuka, kompas kita masih menunjukkan arah yang benar.

Oleh karena itu, bagi saya, mengingkari dengan hati bukanlah sekadar kepasrahan, melainkan benteng pertahanan intelektual dan moral paling dasar. Seminimal mungkin, saat melihat sesuatu yang salah dinormalisasi di depan mata, hati dan pikiran kita harus tetap berontak dan menyadari bahwa hal tersebut keliru. Sebab, tepat di saat kita mulai ikut memaklumi, di titik itulah kita resmi menjadi sekrup penggerak dari banalitas kejahatan itu sendiri.



Rabu, 04 Maret 2026

Bilah yang Menunggu Jeda

Ada orang-orang yang lahir dengan pisau tajam di dalam dadanya, sebuah kecerdasan yang memotong cepat, intuisi yang menebak tepat, dan lidah yang sering bergerak lebih dulu dari pikirannya. Tapi pisau yang tajam pun bisa melukai pemiliknya sendiri kalau dia tidak pernah belajar kapan harus mengeluarkannya.


Raka adalah salah satunya. Dia bekerja sebagai analis data di sebuah lembaga riset kebijakan pada usia dua puluh delapan tahun. Otaknya berputar seperti prosesor dan caranya berbicara selalu membuat orang menoleh. Di kantor, Raka dikenal sebagai orang yang paling cepat menangkap pola. Dalam sebuah rapat yang penuh grafik membingungkan, dia bisa menyimpulkan dalam tiga kalimat apa yang butuh satu jam untuk dijelaskan orang lain. Rekan-rekannya kagum, atasannya menyukainya, dan Raka sangat menikmati validasi itu.


Namun, ada satu kebiasaan yang dia pelihara tanpa sadar. Setiap kali ada sesuatu yang dia rasa sudah dikuasai, dia akan mengatakannya keras-keras sebelum benar-benar membuktikannya. Dia sering memberikan jaminan bahwa sebuah model akan akurat di atas sembilan puluh persen atau menjanjikan pekerjaan selesai dalam dua hari. Dan karena sering kali dia benar, Raka mulai percaya bahwa dia memang selalu benar.


Ujian sesungguhnya datang saat lembaganya mendapat proyek besar untuk membangun sistem prediksi anomali anggaran di ratusan daerah. Raka langsung mengajukan diri menjadi pemimpin proyek dengan estimasi waktu tiga bulan. Minggu-minggu awal berjalan lancar karena idenya mengalir deras, tapi di minggu ketiga, dia mulai menemukan kendala teknis. Dokumentasi data dari berbagai daerah ternyata berantakan dengan format yang tidak konsisten dan banyak nilai yang hilang. Bagi Raka, membersihkan data adalah pekerjaan yang membosankan dan tidak seksi, jadi dia memutuskan untuk melewatinya dan fokus membangun arsitektur model yang elegan.


Saat presentasi interim di depan klien pada minggu kedelapan, Raka dengan percaya diri menunjukkan tingkat akurasi model sebesar 91 persen. Namun, seorang auditor senior bernama Bu Winarti memberikan interupsi. Beliau menanyakan apakah model tersebut sudah mempertimbangkan kesalahan pencatatan sistemik di Kabupaten Butur dan dua belas daerah lainnya yang sudah ditandai di dokumen awal sejak bulan lalu.


Ruangan seketika sunyi saat Raka membuka laptop dan menemukan file dokumentasi yang selama ini dia abaikan. Ternyata ada folder yang belum pernah dia buka karena dia anggap tidak penting. Begitu koreksi dimasukkan, angka akurasi 91 persen itu langsung runtuh menjadi 67 persen.


Malam itu, Raka duduk sendirian di mejanya dengan rasa malu yang menghantam keras. Dia menyadari bahwa gap terbesar dalam hidupnya bukan antara yang tidak tahu dan yang tahu, melainkan antara yang tahu dan yang melakukan. Dia teringat tentang konsep dua sistem berpikir: Sistem 1 yang cepat dan intuitif, serta Sistem 2 yang lambat dan teliti. Selama ini dia terlalu bangga dengan kecepatan Sistem 1 hingga sering menyeretnya pada kesimpulan yang belum matang.


Perubahan tidak terjadi secara instan bagi Raka. Dia mulai membereskan kembali semua dokumentasi yang tertunda satu per satu. Dia juga menempelkan sebuah catatan kecil di monitornya yang berbunyi: "Apa yang belum aku tahu tentang ini?". Kalimat itu menjadi jeda penting sebelum dia mengeluarkan klaim atau impuls kata-kata. Selain itu, dia mulai mencatat setiap prediksinya secara mingguan untuk melihat pola akurasinya. Data pribadinya menunjukkan bahwa dia cenderung terlalu percaya diri pada topik yang baru dia sentuh.


Tiga minggu kemudian, Bu Winarti kembali ke mejanya setelah melihat laporan revisi Raka yang jauh lebih solid dan jujur. Ketika ditawari untuk bergabung dalam proyek berikutnya, Raka tidak lagi memberikan jaminan muluk. Dia tersenyum pelan dan hanya menjawab bahwa dia akan mencoba.


Pisau yang tajam memang memotong lebih cepat, tapi pisau yang diasah dengan sabar, ditempa oleh kesalahan, dan dihaluskan oleh kerendahan hati adalah yang akan bertahan paling lama. Mengakui kekurangan hanyalah langkah awal, karena nilai sebenarnya ada pada tindakan melakukan hal-hal sederhana secara berulang dan teliti tanpa perlu ada yang melihat. Tidak ada yang mendengar suara pisau saat sedang diasah, tapi semua orang akan merasakan ketajamannya saat digunakan.