Ada satu nasihat yang pernah saya atau pembaca dengar: "Jangan lihat siapa yang bicara, tapi dengarkan apa yang dia ucapkan." Ungkapan tersebut bahkan dianggap beberapa pihak sebagai sebuah hadits (belakangan diketahui hadits tersebut palsu). Secara ideal, ini terdengar bijak; kita menilai ide berdasarkan isinya, bukan berdasarkan siapa yang mengucapkannya.
Tapi dari pengalaman saya, hal tersebut tidak selalu realistis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam praktiknya, kita punya keterbatasan sumber daya seperti energi dan waktu. Hal ini pada tahap selanjutnya dapat memunculkan apa yang disebut heuristik: jalan pintas mental untuk mengambil keputusan. Salah satu contohnya adalah dengan lebih mendengarkan orang yang memang punya kapasitas, entah dari pengalaman, rekam jejak, atau kompetensi, dibandingkan mereka yang belum terbukti.
Bukan berarti orang lain pasti salah. Tapi secara probabilistik, ide dari orang yang kompeten cenderung lebih bisa diandalkan. Ini seperti memilih sumber informasi yang lebih terpercaya agar kita tidak tenggelam dalam lautan opini.
Di sisi lain, ada juga argumen penyeimbang: kalau kita terlalu fokus pada siapa yang bicara, kita bisa kehilangan ide bagus dari sumber yang tak terduga. Ide brilian kadang datang dari orang yang tidak punya gelar, jabatan, atau reputasi besar. Kalau kita menyaring terlalu ketat sejak awal, kita bisa terjebak pada bias otoritas. Artinya, menilai isi ide tetap penting. Heuristik boleh dipakai, tapi jangan sampai mematikan rasa ingin tahu dan keterbukaan.
Secara kasar, ini sering diasosiasikan dengan prinsip Pareto: sekitar 20% orang mungkin menghasilkan 80% ide atau kontribusi terbaik. Distribusinya tidak merata. Karena itu, masuk akal kalau secara heuristik kita lebih banyak mendengar pada kelompok kecil yang memang berkualitas tinggi. Namun, ini bukan hukum alam yang kaku. Pareto lebih tepat dibaca sebagai pola umum, bukan aturan mutlak. Masih selalu ada peluang bahwa ide berharga muncul dari luar 20% itu.
Lalu ada fenomena lain: cerita tentang outlier, keajaiban, atau black swan sering kali digembar-gemborkan. Kita suka dengar kisah orang yang sukses besar dari nol, atau ide jenius dari sosok yang diremehkan. Masalahnya, ini sering terjebak dalam survivorship bias: kita hanya melihat yang berhasil, bukan ribuan kasus serupa yang gagal dan tak pernah terdengar. Kalau terlalu terpesona oleh kisah langka ini, kita bisa salah membaca realitas. Padahal, dalam kebanyakan kasus, pendekatan yang mengandalkan kapasitas, rekam jejak, dan konsistensi jauh lebih masuk akal secara statistik.
Kesimpulanku sementara: menilai apa yang diucapkan itu penting. Tapi dalam dunia nyata, mempertimbangkan siapa yang berbicara juga rasional sebagai heuristik. Kuncinya bukan memilih salah satu secara ekstrem, melainkan menyeimbangkan keduanya: terbuka pada ide, tapi tetap kritis pada sumber ide.